Pada Juli 2014, sebuah keputusan telah ditetapkan. Aku, Nur Jihan
Qothrunnada puteri ke-2 dari 3 bersaudara Bapak Sahid dan Ibu Munifah,
kelahiran 17 Agustus 2000 di Mojokerto, menjejakkan langkah pertama sebagai
murid Madrasah Aliyah Negeri Mojosari. Tidak seperti yang diperkirakan oleh
beberapa orang yang terkejut setelah mengetahui keputusan yang di ambil. Tetapi
Bismillah, aku berniat untuk menuntut ilmu berdoa semoga dapat menjadi sebuah
kebanggan orangtua, keluarga, sekolah, bahkan negara dan menjadi manusia yang
bermanfaat di kemudian hari.
Gugus 4 adalah nama gugusku di masa orientasi siswa. Masa dimana aku
mengenal teman – teman seperjuangan untuk yang pertama kalinya. Menantang diri
sendiri untuk berteman dengan yang lain. Mampukah aku? Hasilnya tidak seburuk
itu meskipun tidak dapat digolongkan ke dalam kategori baik. Hanya sekedar
menghafal nama dan menghubungi bila perlu, tidak lebih. Namun terimakasih untuk
Fira Khadijah dan Ainor Rohmah.
Fira Khadijah, puteri ke-3 dari 4 bersaudara. Merupakan puteri dari
seorang guru mata pelajaran biologi yang bisa dibilang terkenal di MAN Mojosari
ini. Tinggal di alamat Fira Khadijah. Fira adalah orang yang benar – benar
pertama kali kukenali di sekolah ini. Fira adalah teman dari satu SMP dulu di
SMP Negeri 1 Ngoro. Walaupun tidak dapat dikatakan dekat, hanya sekedar
mengetahuinya karena namanya termasuk ke dalam daftar murid terkenal
se-angkatanku masa itu. Tapi sekarang ayo kita berteman baik, Fira!
Ainor Rohmah, puteri bungsu dari 4 bersaudara. Beralamat di alamat
ainor rohmah. Pertama mengenal ainor saat tes lisan jalur prestasi MAN
MOJOSARI. Hal yang membuatku tertarik padanya ialah fakta bahwa dia menyukai CN
Blue –sebuah band dari Korea Selatan. Hal itu secara tidak langsung menegaskan
bahwa aku bukanlah satu – satunya siswi yang menyukai musik dari Negeri
Gingseng itu. Jujur, aku lega.-. . Hal yang mengejutkan adalah aku tidak
menyangka akan menghabiskan masa SMA ku dengannya. Yah, meski belum bisa
dikatakakan ‘menghabiskan’ , tapi setidaknya selama ini ainor selalu berada di
jalur yang sama denganku. Walau tak dapat dipungkiri, pasti ada beberapa
selisih pendapat di antara kami. Pasti!
Setelah masa orientasi selesai, pembagian kelas telah diumumkan. X
MIA 1 yang katanya merupakan bibit program akselerasi memberi sedikit kebanggan
terhadap diriku. Hal buruknya adalah, kami tidak memiliki ruang kelas pribadi
T.T jadi selama beberapa bulan, kami menghabiskan waktu bersama di Laboratorium
Kimia MAN MOJOSARI. Beberapa hal yang patut disyukuri adalah : pertama, memiliki
wali kelas seperti Bapak Sudiono. Dengan pribadi yang disiplin, pada detik
pertama mengenalnya telah kuputuskan untuk mengikuti bimbingannya sebagai anak
didik yang baik agar menjadi sosok sisiwi disiplin seperti Bapak Dion. Kedua,
letak kelas yang relatif dekat dengan gerbang masuk dan mushollah entah mengapa
terdengar sangat pas untukku. Meskipun letaknya agak jauh dari kantin dan
beberapa ruang lainnya, hal ini masih dapat kuterima.
Beberapa bulan telah berlalu, berita mengejutkan akhirnya datang.
Fakta bahwa kami, siswa kelas X MIA 1 akan dipisahkan merupakan sebuah
guncangan yang berarti. Tangis kesedihan mengiringi perpisahan kami di hari
terakhir sebelum kami memasuki ‘kelas sungguhan’ kami. Janji untuk selalu
bersama, saling menghubungi, tidak melupakan telah diucapkan. Tetapi, meskipun
aku turut menitikkan air mata, jahatkah aku bila aku meragukan janji –yang
sudah terlihat hasilnya, dan mengecewakan- itu?
X Akselerasi, dengan wali kelas yang sama yaitu Bapak Dion, adalah
‘kelas sungguhan’ yang menjadi tempatku untuk menuntaskan misi menjadi siswi
teladan. Disana aku bertemu dengan 12 siswa lainnya –ynag sekarang hanya 10.
Agak canggung tentunya, tapi merekalah yang akan menjadi temanku menghabiskan
masa SMA ku yang tak lama. Salam kenal kawan! . Hal yang selalu menggangguku
sebelum memulai program akselerasi ialah mampukah aku untuk mengikuti program
ini? Meskipun aku mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi, tapi hal ini
masih menggangguku.
Berbekal dari rasa iri saat dibandingkan dengan sang kakak
tersayang, juga demi mendengar sebuah pengakuan apakah yang kulakukan ini
membanggakan orangtua, rasa itu kini menjadi sebuah dorongan tersendiri agar
aku selalu menjadi yang terbaik. Obsesikah ini?. Jujur, aku tidak terlalu
menganggap pertanyaan ini penting, karena aku hanya menganggap bahwa ini adalah
motivasiku yang selalu membantuku melewati rintangan untuk mencapai tujuan.
Mungkin ada beberapa teman sekelasku yang agak risih akan hal ini karena aku
benar – benar terpengaruh terhadap nilaiku. Tapi bagaimana lagi? Aku sudah
terbiasa dengan sikap yang seperti ini. Maafkan aku kawan apabila kalian tidak
nyaman akan sifatku yang ini.
Mengingat bahwa aku ‘sempat’ mengharapkan sebuah pengakuan dari
orangtua, aku berangkat bersama seorang teman –ainor dan tria- berbekal sebuah
harapan dari sekolah, teman, guru, bahkan mungkin juga keluarga menuju Hanoi,
Vietnam pada Januari 2015. Global Youth Summit merupakan sebuah acara yang
berhasil membuatku ingin sekolah di MAN MOJOSARI lantaran berharap agar dapat
menjadi perwakilan. Tak disangka, harapan itu akhirnya terwujud dan
menghasilkan sebuah medali perunggu tanda juara 3 junior category –umurku masih
15 tahun, jadi tidak tergolong senior category- . hanya berharap bahwa mereka
semua bangga akan apa yang telah kami –aku dan ainor- raih. Terimakasih kepada
semua pihak –Bu Hanifah, Bu Umi Eni, Bapak Dion, Bu Alfiyah, Bu Henik, guru –
guru yang lain, juga teman sekelas- yang telah membantu, memberi motivasi dan
dukungan kepada kami, yang telah menggantungkan harapan dan mempercayai kami
sebagai wakil dari sekolah. Ini adalah juara pertama yang dapat ku raih.
Terimakasih banyak.
Pada kisaran bulan Januari – Februari, aku ditunjuk untuk mengikuti
sebuah lomba di bidang kepramukaan LOSIPRAM di Malang. Berita buruknya ujian
akhir semester hanya tinggal menghitung hari. Demi memberikan yang terbaik
untuk sekolah, terpaksa harus meninggalkan beberapa kelas yang penting. Bisakah
ku katakan bahwa aku sama sekali tidak siap saat itu? Tanpa ada persiapan yang
matang, bahkan ada beberapa mata pelajaran yang sama sekali tidak kupahami, aku
masih harus membagi fokusku terhadap lomba yang akan datang dan juga ujian
akhir semesterku. Meskipun terpaksa harus merelakan hari pertama ujian aku
masih berusaha untuk mengejar ketinggalanku dengan meminta ‘pelajaran tambahan’
ke teman – teman. Agak takut sebenarnya, tapi mengingat bahwa aku harus menjadi
yang terbaik agar orangtua bangga, tentu aku harus berusaha sebaik mungkin.
Teman – teman, maaf dan terimakasih! T.T
Sekarang aku sudah menginjak semester 5. Berita baiknya ialah aku
masih beruntung dapat mempertahankan peringkatku selama 4 semester kemarin.
Berharap aku dapat melakukan hal yang sama kedepannya. Berita buruknya, hanya
tinggal beberapa bulan lagi masa sma ku akan berakhir. Mengingat tentang
berbagai macam ujian juga kehidupanku setelahnya –masa depanku- membuatku
takut. Semoga aku masih dapat memepertahankan peringkatku kedepannya, dapat
mempersiapkan segalanya untuk berbagai macam ujian yang akan dilewati dan lolos
dengan nilai yang sempurna –setidaknya tergolong bagus teratas- , terutama
mendapat nilai hasil ujian nasional dengan nilai terbaik. Amiinn.. /.\
Untuk rencana setelah lulus sma, jujur masih terlalu banyak
pertimbangan yang ada di pikiranku. Ini membuatku sedikit merasa stress. Tapi
setidaknya aku harus fokus pada nilai harianku. Untuk masalah lanjut kemana,
ataupun mengambil apa, aku yakin akan ada masanya dimana semuanya menjadi jelas
bagiku.
Bismillah… tinggal
sedikit lagi, ujian akhir semester kembali menyambangiku. Tinggal sedikit lagi,
keputusan besar harus segera ditetapkan. Tinggal sedikit lagi, aku harus
mengerahkan segala upaya untuk menjadi yang terbaik di angkatan ini. Tinggal
sedikit lagi untuk meraih tujuanmu. Tinggal sedikit lagi untuk membuka pintu
baru, menggapai cita – cita, membuat masa depan yang cerah. Tinggal sedikit
lagi.. dan mulai, Han! Semangat!!



kak ji cumuuuuuu :v
BalasHapusMaksudte lohh '-'
BalasHapus